TEGASNEWS.COM – MAKASSAR. Upaya untuk melahirkan output bagi lembaga pendidikan merupakan target yang tidak bisa ditawar. Karenanya sekolah lewat tenaga pengajar diharapkan mampu terus menerus mencari strategi pembelajaran pada siswa hingga dapat mencapai nilai yang berkualitas.
Konsep inilah yang di optimalkan kepala sekolah SMA negeri 8 Makassar dalam menghadapi kondisi saat ini yang padat dengan tantangan, terutama dalam perubahan peradaban teknologi yang banyak mengantar siswa pada terjadinya DISTORSI literasi.
Kata Iwanuddin, perkembangan teknologi yang menghadirkan berbagai aplikasi, membuat siswa tidak lagi tertarik dengan literasi, tak ada lagi analisah, daya gali nihil dalam berhadapan dengan mata pelajaran, tentunya ini karena pengaruh aplikasi ( Hp) yang mana siswa hari ini menjadi sahabatnya setiap waktu, ” inilah seonggok tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan hari ini “, jelas Iwanuddin yang sebelumnya diamanahkan memimpin SMA negeri 8, kepsek SMA negeri 10 Lutim. Dijelaskan Iwanuddin , dalam ujian akhir untuk kelas XII tahun 2025 yang baru saja berakhir, bersama personil meletakkan strategi yang bisa dikata tidak lazim yakni, siswa yang mengikuti ujian kembali berhadapan dengan lembaran kertas dengan menggunakan pensil H2B, seperti layaknya beberapa tahun lalu, jadi sistem Aplikasi Android digeser. Hal ini diakui untuk kembali mengembalikan daya analisah, kreativitas siswa dan muaranya mencintai literasi ” Alhamdulillah cukup efektif dan siswapun mengerjakan soal soal sesuai dengan waktu yang disiapkan” tandas Iwanuddin.
Menyinggung soal kerangka kurikulum yang berubah-ubah menurut nya, model kerja kurikulum ini pada dasarnya tidak jauh beda, semuanya bermuara pada pencapaian Karekteristik siswa, kompetensi dan upaya meraih nilai yang optimal . ” Sekarang tinggal bagaimana guru memberikan atau menerapkan sistem pelajaran yang efektif sehingga mampu mencapai tiga faktor diatas” ujarnya.
Di tandaskan Iwanuddin kepsek yang banyak melakukan akselerasi pembinaan sejak SMA negeri 8 di tangannya, setiap sistem dalam model kurikulum, tidak bisa dengan serta merta dapat dilihat hasilnya namun butuh proses, seperti kurikulum K 13, Pancasila merdeka belajar, ini butuh proses dan selanjutnya nanti kita lihat lagi dengan kurikulum Deep Learning yang intinya adalah PEMBELAJARAN MENDALAM, ” Artinya semua model kurikulum punya lebih-kurangnya, tergantung lingkungannya, proses pembelajarannya dan mitra pembelajaran, kunci Iwanuddin menutup perbincangan. ( AH/Jamal)