Kepsek SMA 23, Dr.SYAHRUDDIN, S.pd, M.pd : PROGRAM MUTU, TAK BISA DITAWAR

TEGASNEWS.COM – MAKASSAR. Upaya untuk melahirkan output bagi lembaga pendidikan merupakan target yang tidak bisa ditawar. Karenanya sekolah lewat tenaga pengajar dan seluruh petdonoldiharapkan mampu terus menerus mencari strategi pembelajaran pada siswa hingga dapat mencapai nilai yang berkualitas.

Konsep inilah yang di optimalkan kepala sekolah SMA negeri 23 Makassar dalam menghadapi kondisi saat ini yang padat dengan tantangan, terutama dalam perubahan peradaban teknologi yang banyak mengantar siswa pada terjadinya distorsi literasi.

Kata Syahruddin perkembangan teknologi yang menghadirkan berbagai aplikasi, membuat siswa tidak lagi tertarik dengan literasi, tak ada lagi analisah, daya gali nihil dalam berhadapan dengan mata pelajaran, tentunya ini karena pengaruh aplikasi ( Hp) yang mana siswa hari ini menjadi sahabatnya setiap waktu, ” inilah seonggok tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan hari ini “, jelas mantan kepsek SMA negeri 5 Kabupaten Barru yang ditemui diruang kerjanya Senin ( 26/5).

Menyinggung soal sarana prasarana yang dimilki, Ia mengakui tidak terlalu jauh dari standar, seperti sekolah SMA yang lebih dulu beroperasi, seluruh perangkat diupayakan di maximalkan, biar pencapaian untuk mutu optimal, ” doakan di tahun ajaran 2025- 2026, SMA 23 ini dapat bantuan dari pusat dan provinsi ” ujarnya meyakinkan.
Di tandaskan Syahruddin kepsek yang banyak melakukan akselerasi pembinaan sejak hengkang dari Barru ke Makassar dan mengomandoi SMA negeri 19, merinci lebih jauh akan penekanan yang tak hentinya digulirkan pada personilnya, yakni bagaimana membentuk karakteristik siswa, kompetensi dan pencapaian nilai sesuai tuntunan kurikulum, ” tiga faktor ini harus seiring dan dipahami mendalam oleh para tenaga pengajar” tukas nya.

Yang pasti tambahnya , segala upaya tidak bisa dengan serta merta dapat dilihat hasilnya namun butuh proses, seperti dengan kurikulum Deep Learning yang intinya adalah pembelajaran mendalam, ” Artinya semua model kurikulum punya lebih-kurangnya, tergantung lingkungannya, proses pembelajarannya dan mitra pembelajaran, kunci dr.syahruddin menutup perbincangan. ( AH/Jamal)

You might also like